22Juli2017

English French German Italian Portuguese Russian Spanish
Selasa, 05 Mei 2015 14:07

Si Cantik

Character Building Series

Cerita & Gambar Oleh : T. Medy J. Nugraha

Merry Merak berjalan di hadapan para satwa. Mereka berdecak kagum.

“Alangkah cantiknya!” gumam mereka.

Merry tersenyum bangga, ia semakin membusungkan tubuhnya dan berjalan melenggok sambil memamerkan bulu-bulu indahnya.

Begitulah, setiap kali Merry melewati para satwa, dengan bangga dia akan memamerkan keindahan bulu-bulunya. “Akulah yang paling cantik.” Katanya dalam hati.

Kemudian dia pergi ke pinggir telaga lalu melompat ke atas batu yang berada di tengah telaga untuk bercermin memandangi wajah dan tubuhnya di air telaga yang tenang.

“Betapa cantiknya aku!” Puji Merry pada dirinya sendiri.

Lalu dia bercermin di telaga itu sampai menjelang sore.

Mone monyet yang sedang duduk di dahan pohon di dekat telaga melihat Merry.

“Hati-hati, Merry! Di telaga itu banyak ikan Piranha!”

Merry mendengus dan menatap Mone dengan gusar.

“Dasar pengganggu!” umpatnya dalam hati. “Dia pasti iri dengan kecantikanku sehingga tak senang melihatku bercermin lama-lama.”

Merry melompat ke pinggir telaga. Dia mengembangkan ekornya yang indah dan meninggikan kepalanya lalu berjalan menjauhi Mone.

***

Pagi itu, seperti biasa, Merry berjalan menuju telaga.

“Semalam aku kurang tidur. Aku ingin tau seperti apa wajahku hari ini.”

 

Dia melompat ke atas batu di tengah telaga lalu duduk bercermin memandangi wajahnya di air telaga yang jernih.

“Merry!!” Sapa Tuor Kura-kura. “Mari kita mencari makanan!”

Merry menggeleng. “Aku sedang malas mencari makanan hari ini. Rasanya sangat melelahkan. Lagi pula, aku tidak ingin bulu-buluku yang indah ini menjadi rusak tersangkut duri hutan.”

Tuor berlalu. Di belakangnya, Mone menyusul.

“Hati-hati, Merry!” teriak Mone dari kejauhan. “Di telaga itu banyak ikan Piranha!”
 
Merry hanya mendengus kesal. “Dasar monyet pengganggu!” umpatnya dalam hati. “Dia selalu iri!”

Merry memandangi kembali wajahnya di air. “Alangkah cantiknya aku!” pujinya senang.
 
“Meskipun semalam aku kurang tidur, tapi tidak mengurangi kecantikanku. Malah hari ini mataku kelihatan lebih indah. Aih, mata yang sayu!”

Merry merebahkan tubuhnya di atas batu. Angin bertiup lembut menerpa wajahnya. Matanya perlahan terpejam dan segera dia pun tertidur nyenyak.

Merry bermimpi sedang menari di atas panggung. Semua hewan berdecak kagum, memuji kecantikannya. Tanpa disadarinya, dia menggerak-gerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan seolah mengikuti alunan musik yang riang hingga tiba-tiba tanpa sengaja tubuhnya terjatuh ke dalam telaga!

Merry tersentak kaget! Dia mengepak-ngepakkan sayapnya berusaha melompat keluar dari telaga.

Namun segerombolan ikan Piranha yang telah mengintainya sedari tadi, berenang dengan cepat mendekatinya. Dengan gigi-gigi yang tajam, mereka menggigiti tubuh Merry, mencabik-cabik bulunya yang indah!

Merry menjerit kesakitan. “AWW! T-TOLOOOOOONG! TOLOOOOOOONG!!!”

Tuor dan Mone yang sedang memetik strawberi tak jauh dari telaga mendengar teriakan Merry. Mereka berlari menuju telaga.

Mone memanjat dahan yang menjuntai ke tengah telaga.

“Pegang tanganku!” Mone mengulurkan tangannya. Dengan susah payah, Merry akhirnya berhasil meraih tangan Mone.

“T-terima kasih.” Kata Merry terbata. Ia gemetaran. Mone membawanya ke pinggir telaga.
 
Tubuh Merry basah kuyup. Bulu-bulunya yang indah telah rontok digigit Piranha. Ia menggigil kedinginan.

Tuor merasa iba. Dia merangkai dedauan kering lalu diberikannya kepada Merry .

“Pakailah agar tubuhmu tetap hangat!”

Dengan malu-malu Merry mengenakan pakaian dedaunan itu.

Tuor dan Mone lalu mengantarnya pulang.

Sepanjang perjalanan, para satwa melihat Merry yang kini mengenakan dedaunan dan semuanya bertanya apa yang telah terjadi.

Merry hanya tertunduk malu. Air matanya menitik. Kini dia tidak lagi memiliki sesuatu yang bisa dipamerkan!

 

Tamat

Bandung, 23 Januari 2013

Read 668 times