22Juli2017

English French German Italian Portuguese Russian Spanish
Kamis, 05 September 2013 05:57

Tidak Etis, Siswa SMP di Aceh Harus Sebutkan Ukuran Kelamin

TEMPO.CO, Banda Aceh - Siswa kelas 7 sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Sabang, Provinsi Aceh, harus mengisi formulir berisi kuesioner tentang data kesehatan. Di antara yang harus diisi adalah ukuran kelamin dan payudara.

Seorang wali murid, Lina, kepada Tempo mengatakan bahwa dia terkejut saat anaknya menyodorkan lembaran formulir kuesioner yang diberikan sekolahnya. “Anak saya laki-laki, baru masuk SMP tahun ini. Formulir itu disuruh kembalikan hari ini,” katanya, Rabu, 4 September 2013.

Menurut Lina, ada satu halaman kuesioner yang bergambar contoh payudara, kelamin perempuan, dan kelamin laki-laki. Masing-masing ada 4 nomor dari gambar tersebut, dari ukuran kecil hingga ukuran besar. Siswa disuruh melingkari salah satu nomor. Formulir kuesioner tersebut terdiri dari enam halaman. Pada halaman pertama tertulis kata ’Rahasia’ dan ’Kuisioner Penjaringan Kesehatan Peserta Didik Sekolah Lanjutan’.

Lina menilai, selain data ukuran kelamin dan payudara, data lainnya wajar ditanyakan, seperti riwayat kesehatan, pernah pingsan, dan lainnya. ”Kalau ukuran kelamin, sangat tidak etis untuk anak SMP,” ujarnya kesal.

Itu sebabnya, Lina meminta anaknya untuk tidak mengisi bagian tersebut. Kuesioner itu kemudian dibawa anaknya kembali untuk dikumpulkan di sekolah. Lina semakin heran, karena kuesioner semacam itu hanya diberikan kepada anaknya yang di SMP. ”Anak saya yang SMA tidak mendapatkan kuesioner seperti itu,” ucapnya.

Dewan Komite Sekolah SMP 1 Sabang, Iskandar Muda, mengatakan baru mengetahui ihwal kuesioner tersebut setelah dihubungi Tempo. Dia kemudian meminta waktu untuk mengeceknya ke sekolah. Sesaat kemudian, dia menghubungi Tempo dan mengatakan benar adanya perihal kuesioner tersebut. ”Saya tak mau banyak berkomentar, itu dari Dinas Kesehatan,” tuturnya sembari menutup telepon selulernya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Sabang Misman mengatakan, ia belum mengetahui masalah tersebut. Dia mengatakan akan mengecek informasi tersebut ke sekolah.

Minta Murid Ukur Kelamin, Ini Kata Kemendikbud

TEMPO.CO, Jakarta -- Juru Bicara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ibnu Hamad mengatakan kuisioner SMP Kota Sabang yang meminta muridnya mengukur alat kelamin harus ditarik. Ia meminta Kepala Sekolah SMP tersebut untuk mengecek kuisioner kesehatan yang telah diedarkan kepada siswa itu.

"Permintaan itu sudah melampaui ketentuan umum. Di manapun tidak pernah ada minta sebutkan ukuran alat kelamin," kata Ibnu saat dihubungi, Rabu 4 September 2013. 

Ibnu mengatakan seorang Kepala Sekolah juga harus mengawasi kuisioner apapun yang diberikan kepada siswa. Kementerian juga meminta agar Kepala Sekolah memastikan untuk apa kuisioner dengan pertanyaan ukuran alat kelamin itu diedarkan. "Kepala sekolah kan juga berperan sebagai pengawas," kata Ibnu.

Kuisioner berisi pertanyaan tentang ukuran alat kelamin itu diedarkan di SMP Sabang, Nangroe Aceh Darussalam. Salah satu pertanyaan yang harus diisi adalah soal ukuran kelamin dan payudara. (Baca juga: Siswa SMP di Aceh Harus Sebutkan Ukuran Kelamin.

Seorang wali murid, Lina, kepada Tempo mengatakan bahwa dia terkejut saat anaknya yang duduk di kelas 7 menyodorkan lembaran formulir kuisioner yang diberikan sekolahnya. Menurut Lina, ada satu halaman kuisioner yang bergambar contoh payudara, kelamin perempuan, dan kelamin laki-laki.

Masing-masing ada empat nomor dari gambar tersebut, dari ukuran kecil hingga ukuran besar. Siswa disuruh melingkari salah satu nomor. Formulir kuisioner tersebut terdiri dari enam halaman. Pada halaman pertama tertulis kata "Rahasia" dan "Kuisioner Penjaringan Kesehatan Peserta Didik Sekolah Lanjutan".

Pertanyaan-pertanyaan lain, kata Lina, masih dalam batas wajar. Seperti pertanyaan riwayat penyakit atau apakah pernah pingsan. "Kalau ukuran kelamin, sangat tidak etis untuk anak SMP," ujarnya.

Ibnu mengatakan sekolah lain harus belajar dari pengalaman SMP 7. Kementerian tak ingin kejadian tersebut terulang di sekolah lain. "Ya harus belajar," katanya.

Read 1146 times